untuk sri [lopez]
kita sama-sama belum mencium bau masing-masing.
kita hanya menjamah sebatas rupa.
kita bersinggungan di tempat ratusan lainnya bersalaman.
kita hanya sebagian dari sebuah almamater yang sama.
.
tapi detik itu kudengar lagi namamu.
diselingi bunyi2an mengerikan yang keluar dari mesin2 itu.
mesin2 tanpa jiwa yang menjaga [atau merenggut?] nyawamu.
.
tapi saat itu kukenali lagi rupamu.
dengan masker oksigen dan selang2 bersliweran di sekitarmu.
dan air mata di pipi dan tanganmu.
.
tapi waktu itu kurasakan hidupmu.
hanya menyisakan satu harapan. untuk merasakan kesembuhan.
yang membuatku sangat lancang, menerima tubuh yang sempurna.
.
..
seiring masa. doa itu kurambatkan dari sini. dari sesorang yang asing.
bukan pahlawan pembela kebenaran.
hanya seorang… teman.
[tentu kau boleh memanggilku teman]
.
..
tapi,
ternyata Beliau menginginkan cerita ini berakhir berbeda.
Ia sangat percaya padamu. makanya Ia memanggilmu.
dan menjadikanmu pendampingNya di sana.
.
hanya iba dan air mata yang bisa kuberikan lagi.
serta rasa syukur kepadaNya.
memang Dia mahatahu. yang terbaik bagimu adalah jalan ini.
kedamaian dan kebahagiaan kekal.
.
..
…
selamat jalan teman.
.